Sabtu, 25 Maret 2017

Indonesia Ku

Bagaikan embun menyantuh kalbu
Sejajar harapan menerka malam
Untaian burung terbang menari di udara
Embun mengisahkan arti kisah hidup

Kisah....
Kisah.....
Demi kisah kerajaan yang dilalui
Dari kutai sampai mataram islam

Rentetan baris demi baris
Rentetan waktu mengalair
Bagaikan air yang terus berjalan di udara
Proklamasi sampailah sekarang

Berjalan-terus berjalan
Kita berjalan kedepan
Walau tembakakan para pejajah
Ruang gerakan emas

Rabu, 22 Maret 2017

Bunga Kenangan

Kepada membelai bayangan jiwa
Untaian mawar mekar di Angkasa
Rintihan malam mencekam
Ku hanya punya sebatang bunga jiwa


Bunga jiwa yang selalu ku rawat
Ku hanya memberikan siapa yang pantas
Apakah kau sang bunga malam ataukah kau rembulan?
Walau tak seindah pahatan permata

Setitik embun menorehkan warna kehidupan 
Sebintik noda awan menorehkan luka
Sayatan duri maut dan pisau beracun
Ku tak akan memakan roti madu birisikan racun

Petualang negeri samudra pasir
Mencari untaian-untaian jawaban buah kehidupan
Tak perlu kau meminum air neraka itu
Kau hanya perlu menyelam di teluk samudra jiwa

Senin, 20 Maret 2017

Obat Jiwa



Tak seperti diding kokoh
Duri menembus jantung jiwa serasa mati rasa
Bagaikan heningnya rembulan di pinggir kolam
Serasa membawa ke angkasa

Bintang permata penuh makna kata
Serasa sebagai obat jiwa
Tak perlu mengeluh tak penuh resah karna semua penuh fana belaka
Kau bilang badai darah meratap
Namun tak seperti bunga penuh duri

Kau bilang gengamman pasir
Namun itu hanya tangan kosong
Katanya kau menembak burung
Namun burung itu lari

Walau pun begitu ku tetap mencari madu
Ditengah serdadu lebah pemangsa
Ganasnya kau menerka
Namun ada manisnya buah kehidupan
Bagaikan bingkai-bingkai kenangan mimpi