Terasa udara tak berhembus
Namun pohon masih terus bergoyang
Batang besi bengkok menemani
Laju penuh dengan kecepatan mentari
Awan berubah ubah di iringi perir
Langit cerah melampiaskan melodi kesengan
Mengaduk madu dengan garam dan jeruk
Jarum menyulam benang dan senar gitar serta senar pancing
Dengan bendera setengah berkibar
Mengeluarkan isi di jiwa
Hangat dingin dalam hati
Teori-teori tak guna dan logika terus menggila
Plus dan minus terus merajai
Apakah GNB akan terus bertahan......
Aturan hukum yang membuat seperti boneka tanpa akal....
Kini tlah tertidur entah sampai kapan?
Tanpa Kata
Rabu, 04 April 2018
Senin, 02 April 2018
Merenung dalam tangisan ilusi
Pada cerita pendek Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang karya Mustofa Bisri, dalam pembawaannya masih tergolong agak ringan, karna bisa di pahami. walau pun begitu, ahkir cerita yang masih menggantung membuat pembaca untuk menebak dan menerawang cerita, tersebut namun jika untuk para pemula yang baca cerita tersebut masih belum sesuai karena pasti pembaca awang merasa agak janggel dan bertanya-tanya serta kesal karna tak tahu apa maksud dari Sang Penulis.
Pada hal ini sang penulis menceritakan kemistiriusan pada gadis kecil itu di ungkapkan pada teks berikut.
Ketika pertama kali aku melihatnya, aku sudah bertanya tanya dalam hati. Aku melihatnya dari jendela kereta api menjelang keberangkatanku dari stasiun S menuju kota J. Seorang gadis cilik beralis tebal berdiri sendirian di peron, memandangiku. Semula aku kira dia sedang mengantar dan ingin melambai seseorang lain, orangtuanya atau saudaranya atau siapa. Tapi kulihat matanya yang cemerlang tertuju langsung kepadaku dan hanya kepadaku. Saya membayangkan atau mengharapkan dia tersenyum. Bila tersenyum, pasti akan semakin indah bibir mungil itu. Tapi dia sama sekali tidak tersenyum. Hanya pandangannya saja yang tidak terlepas dari diriku. Aku sama sekali tidak bisa menafsirkan atau sekadar menerka ncrka kehadiran dan pandangannya. Wajah manis itu tidak mengekspresikan apa apa.
Sampai keretaku berangkat, wajah gadis kecil beralis tebal bermata cemerlang itu masih memandangiku. Anak siapa gerangan? Mengapa sendirian di stasiun? Bukan. Menilik pakaian dan sikapnya, dia pasti bukan gelandangan. Pakaiannya bersih, sikapnya mantap. Dan matanya itu, mata yang cemerlang itu, meski tidak memancarkan kegembiraan, tidak menyiratkan sedikit pun penderitaan atau sekadar kegelisahan seperti umumnya kebanyakan mata anak gelandangan.
Keretaku semakin melaju. Stasiun yang menyimpan misteri gadis kecil itu sudah lenyap dari pandangan. Tapi wajah gadis kecil itu tak kunjung hilang dari benakku. Dia terus mengikutiku. Sampai kondektur memeriksa karcis. Sampai kru KA menyuguhkan makan malam. Sampai aku makan. Sampai aku tertidur.
Tahu-tahu aku sudah sampai di stasiun kota J. Dengan taksi aku menuju rumah kenalanku yang menjanjikan akan mengenalkanku dengan adiknya yang katanya cantik seperti bintang film kesukaanku. Sopir taksi menanyakan seperti biasa. “Lewat mana?” Saya pikir ini kiat sopir taksi untuk mengetahui apakah penumpangnya ngerti jalan atau tidak. Kalau ketahuan tidak mengerti jalan, maka dia putar-putar seenaknya agar argonya bisa tinggi. Maka aku bilang, “Terserah abang sajalah!” Dan ternyata karena aku memang tidak mengerti jalan, aku pun tidak tahu apakah dia putar-putar atau tidak.
Rumah kenalanku, Sahlan, terletak di kampung yang padat Aku keluar masuk gang, tanya sana-sini, haru akhirnya ketemu. Rumahnya sederhana sekali seperti umumnya rumah-rumah yang lain.
Sahlan senang sekali melihat aku benar-benar datang memenuhi janjiku. Saking senangnya dia kelihatan seperti gugup. Sebentar-sebentar masuk lalu keluar lagi dan setiap keluar ada saja yang dibawanya: yang minuman, kue-kue, rokok. Terakhir dia bawa peralatan mandi. “Mandi dulu apa?” tanyanya kemudian dijawab sendiri. “Ya, sebaiknya kamu mandi dulu biar segar.” Aku nurut
“Kok sepi? Kau sendiri ya?!” tanyaku ketika dia mengantarku ke kamar mandinya.
“Ya, bapak dan ibu sedang mudik ke M. Aku sendirian dengan adikku, jaga rumah.”
Entah mengapa ada rasa lega ketika mendengar dia sendirian dengan adiknya. Tapi di mana dia gerangan? Mau bertanya agak malu juga, jadi aku diam saja.
“Ini kamarmu. Kalau ingin istirahat dulu, silakan lho!” katanya ramah, “Jangan malu-malu. Anggap saja rumah sendiri!”
Di kamar mandi aku mendengar suara gadis sedang menyanyi lagu India. Ini pasti suara adiknya, pikirku. Merdu juga. Pasti orangnya cantik.
Habis mandi aku langsung masuk ke kamar yang disediakan, entah kamar siapa. Mungkin kamar orangtuanya. Kamar ini juga sederhana tapi bersih sekali. Aku ganti baju dan suara lagu India itu masih terus kudengar.
“Sarapan dulu, Mas!” tiba-tiba terdengar suara Sahlan dari luar kamar. “Oke!” jawabku dari dalam kamar.
Ketika aku keluar. Masya Allah, aku tertegun. Kulihat di depanku, seorang perempuan menatapku. Alisnya tebal, matanya cemerlang, dan senyumnya manis sekali; persis seperti yang dimiliki gadis kecil yang menatapku di stasiun S. Tak mungkin perempuan ini ibu dari gadis cilik itu. Terlalu muda sebagai ibu. Atau kakaknya? Tapi Sahlan pernah mengatakan dia hanya mempunyai seorang adik perempuan.
Perempuan itu memberi isyarat, mempersilakan ke meja makan sambil tersenyum manis sekali. Aku mengangguk dengan gugup. Sahlan sudah duduk di meja makan sambil membaca koran. Syukur dia tidak memperhatikan kehadiranku dan tidak melihat kegugupanku. Aku segera memperbaiki sikapku seolah-olah tidak ada apa-apa dan langsung menuju meja makan. Perempuan itu duduk di samping Sahlan. Aku pun mengambil tempat duduk di depan mereka. Merasa saya sudah bergabung, Sahlan buru-buru melipat korannya dan mempersilakan.
“O ya, kenalkan dulu, ini Shakila,” katanya sambil melirik perempuan bermata cemerlang di sampingnya, “Adikku. Adik ketemu gede, ha-ha. Istriku tercinta!” Deg. Ada sesuatu seperti memalu dadaku. Ternyata istrinya. Asem, kau Sahlan, batinku.
Perempuan itu mengulurkan tangannya. Dengan kikuk aku pun mengulurkan tanganku. Kami berjabatan tangan dan terasa ada getar yang kurasakan; entah bersumber dari tanganku atau tangannya yang lembut. Kembali berkelebat wajah gadis kecil di stasiun.
“Ayo, kita mulai! Nanti keburu dingin rawonnya!” Sahlan kembali mempersilakan. Tanpa berbicara sepatah pun, istrinya mengambilkan nasi untukku dan suaminya. Kami, maksudku aku dan Sahlan, makan sambil mengobrol. Istrinya sama sekali tidak ikut bicara. Hanya sesekali tersenyum; seperti ketika suaminya menceritakan asal-usul namanya yang seperti nama bintang film India itu. Bahkan ketika aku sengaja bertanya sesuatu kepadanya, Sahlan yang menjawab. Sekejap terlintas dalam pikiranku, jangan-jangan istri Sahlan ini bisu. Ah, tidak, lha tadi yang kudengar menyanyi lagu India, kan, dia.
Sehabis makan, aku dan Sahlan masih meneruskan berbincang-bincang, tepatnya Sahlan yang bercerita dan aku hanya kadang-kadang membumbui pembicaraanya; sementara istrinya membereskan meja makan dengan diam. Untunglah Sahlan termasuk jenis manusia yang senang berbicara tanpa peduli didengarkan atau tidak; sehingga dia tidak menyadari kalau aku tidak begitu konsentrasi mendengarkannya. Konsentrasiku terpecah antara mendengarkan pembicaraannya dan memikirkan istrinya. Sejak melihat kemiripannya dengan gadis kecil di stasiun dan mendengar suaranya menyanyikan lagu India, aku mengharap dia itulah adiknya. Ternyata Sahlan, sengaja atau tidak, telah mempermainkanku. Yang dia bilang adiknya ternyata istrinya.
Hal ini lah yang membuat tokoh aku bertanya-tanya, hubungan kemiriapan yang karakter tokoh gadis cilik dengan istri krabatnya, yang memiliki ciri khas yang sama. Namun, setelah ia tahu asal usulnya ahkirnya sang penulis menyimpulkan gadis cilik yang ia temui di stasiun tak lain ialah adik dari istri krabatnya.
selain itu cerpen ini juga memperlihatkan beberapa tempat seperti
Ketika pertama kali aku melihatnya, aku sudah bertanya tanya dalam hati. Aku melihatnya dari jendela kereta api menjelang keberangkatanku dari stasiun S menuju kota J. Seorang gadis cilik beralis tebal berdiri sendirian di peron, memandangiku. Semula aku kira dia sedang mengantar dan ingin melambai seseorang lain, orangtuanya atau saudaranya atau siapa.
Sampai keretaku berangkat, wajah gadis kecil beralis tebal bermata cemerlang itu masih memandangiku.
Tahu-tahu aku sudah sampai di stasiun kota J. Dengan taksi aku menuju rumah kenalanku yang menjanjikan akan mengenalkanku dengan adiknya yang katanya cantik seperti bintang film kesukaanku
Cerita ini memang mudah dimengerti namun masih ada yang kurang seperti masakan kurang bumbu
Sabtu, 25 Maret 2017
Indonesia Ku
Bagaikan embun menyantuh kalbu
Sejajar harapan menerka malam
Untaian burung terbang menari di udara
Embun mengisahkan arti kisah hidup
Kisah....
Kisah.....
Demi kisah kerajaan yang dilalui
Dari kutai sampai mataram islam
Rentetan baris demi baris
Rentetan waktu mengalair
Bagaikan air yang terus berjalan di udara
Proklamasi sampailah sekarang
Berjalan-terus berjalan
Kita berjalan kedepan
Walau tembakakan para pejajah
Ruang gerakan emas
Sejajar harapan menerka malam
Untaian burung terbang menari di udara
Embun mengisahkan arti kisah hidup
Kisah....
Kisah.....
Demi kisah kerajaan yang dilalui
Dari kutai sampai mataram islam
Rentetan baris demi baris
Rentetan waktu mengalair
Bagaikan air yang terus berjalan di udara
Proklamasi sampailah sekarang
Berjalan-terus berjalan
Kita berjalan kedepan
Walau tembakakan para pejajah
Ruang gerakan emas
Rabu, 22 Maret 2017
Bunga Kenangan
Kepada membelai bayangan jiwa
Untaian mawar mekar di Angkasa
Rintihan malam mencekam
Ku hanya punya sebatang bunga jiwa
Untaian mawar mekar di Angkasa
Rintihan malam mencekam
Ku hanya punya sebatang bunga jiwa
Bunga jiwa yang selalu ku rawat
Ku hanya memberikan siapa yang pantas
Apakah kau sang bunga malam ataukah kau rembulan?
Walau tak seindah pahatan permata
Setitik embun menorehkan warna kehidupan
Sebintik noda awan menorehkan luka
Sayatan duri maut dan pisau beracun
Ku tak akan memakan roti madu birisikan racun
Petualang negeri samudra pasir
Mencari untaian-untaian jawaban buah kehidupan
Tak perlu kau meminum air neraka itu
Kau hanya perlu menyelam di teluk samudra jiwa
Senin, 20 Maret 2017
Obat Jiwa
Tak seperti diding kokoh
Duri menembus jantung jiwa serasa mati rasa
Bagaikan heningnya rembulan di pinggir kolam
Serasa membawa ke angkasa
Bintang permata penuh makna kata
Serasa sebagai obat jiwa
Tak perlu mengeluh tak penuh resah karna semua penuh fana belaka
Kau bilang badai darah meratap
Namun tak seperti bunga penuh duri
Kau bilang gengamman pasir
Namun itu hanya tangan kosong
Katanya kau menembak burung
Namun burung itu lari
Walau pun begitu ku tetap mencari madu
Ditengah serdadu lebah pemangsa
Ganasnya kau menerka
Namun ada manisnya buah kehidupan
Bagaikan bingkai-bingkai kenangan mimpi
Langganan:
Komentar (Atom)